Masjid dan Pasar

     Membicarakan Islam adalah suatu hal yang mungkin tak kunjung habis. Perkembangannya terus mengiringi waktu, mengisi tiap detik dan menit dalam putaran-putaran jarum jam. Maka tak heran sebagaian kalangan mengatakan bahwa Islamisasi adalah suatu hal yang tak kan berujung. Ia merupakan proses panjang yang tak bisa diterka kapan berakhir. Hal tersebut terjadi dikarenakan islam terus berdialog dengan berbagai unsur budaya maupun aktor dalam dunia sosial yang makin kesini makin berkembang. Realitas ini dapat kita rasakan hingga saat ini. Saat dimana Islam menjadi agama yang begitu berkembang.

       Ada satu hal menarik yang bisa kita lihat terkait proses islamisasi atau dalam hal ini boleh kita sebut sebagai dakwah. Hal yang dimaksud adalah sebuah cara yang sejak zaman dahulu digunakan untuk menyebarkan agama Islam di nusantara, Dagang. Sebuah kegiatan yang sebenarnya menjadi cikal bakal penyebaran Islam terutama di wilayah pesisir pantai Jawa dan Sumatera.

         Seperti kita ketahui, bahwa salah satu corong penyebaran Islamm saat masuk ke Indonesia adalah melalui perdagangan. Fakta ini seolah dijadikan sebuah asumsi-asumsi teoritis perihal adanya hubungan antara pasar (pedagang) dan masjid (da’i). Antropolog kenamaan Amerika Serikat, Geertz, melakukan sebuah studi perbandingan antara Islam di Maroko dan di Indonesia, melihat bahwa terdapat sebuah hubungan historis fungsional antara pasar dan masjid, antara dagang dan Islam. Hubungan Dakwah dengan kegiatan komersil (Aly dan Effendy, 1986:34).

        Asumsi di atas ternyata tetap dapat kiat lihat saat ini. Dengan berkembangnya Islam sekarang bermunculan lah kelompok-kelompok pengajian. Mulai dari Jamaah-jamaah Habaib, yang tradisionalis, hingga kalangan modernis seperti Salafi-wahhabi mengadakan berbagai pengajian-pengajian rutin pekanan atau bulanan tak luput dari perkara komersil. Perkara komersil yang dimaksud tentu adalah dagang.

      Kalau pembaca pernah datang ke acara Majelis Rasulullah atau majelis habib mana pun, di pelataran Masjid ramai nian para pedagang. Dagangannya beragam mulai dari buku-buku sang habib, hingga aksesoris seperti pakaian, peci, hingga jaket bertuliskan “Majelis Rasulullah”. Demikian juga kalau pembaca mengikuti pengajian salafi yang digelar di Masjid Walikota Depok tiap bulan. Tak lepas selalu disediakan tempat untuk menjual berbagai macam hal, apakah itu majalah-majalah, buku-buku sang ustadz, rekaman pengajian, jilbab hingga gamis-gamis pakistan. Realitas ini seolah membenarkan asumsi di atas bahwa memang penyebaran Islam tak pernah bisa dilepaskan dari pasar. Masjid yang memiliki relasi transendental dengan Yang Maha Kuasa ternyata memiliki rantai panjang yang terikat dengan komersialitas. Kalau demikian perlu kah kita pertanyakan mereka?nyari duit kah?atau ngaji?

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.