Indonesia dengan segala keragamannya ternyata memiliki tempat yang baik di Dunia Internasional. Terutama

Kampanye Parpol
menyangkut Demokrasi. Indonesia telah mendapat pengakuan dari Dunia Internasional sebagai sebuah Negara Demokrasi. Hal ini merupakan sebuah penilaian atas telah berjalannya Pemilihan Umum (Pemilu) secara sehat sejak tahun1999 dan telah melakukan pemilihan presiden dan wakil presiden secara langsung. Sudah 2 pemilu dan saat ini memasuki pemilu yang ketiga, pemilu 2009. Bahkan ada yang mengatakan Pemilu Indonesia lebih demokratis dibanding dengan Amerika Serikat (AS) karena Indonesia memilih langsung presidennya sementara AS, setelah capresnya dipilih oleh para pemilih tidak serta merta yang menang akan jadi presiden tapi akan dilakukan voting lagi di electoral college (dewan pemilih), kalau perolehan suara di electoral college di atas 270 baru bisa menjadi Presiden AS.
Di samping itu, pertumbuhan partai politik (parpol) di Indonesia juga sangat signifikan. Pada pemilu 2009 ini saja sudah ada 38 peserta parpol nasional dan 8 parpol di tingkat lokal. Dahsyatnya Demokrasi di Indonesia. Dengan banyaknya parpol ini juga menghadirkan berbagai tantangan bagi masing-masing parpol terkait usaha mereka untuk dapat menjaring massa yang dapat mendulang suara. Mulai dari Iklan di televisi, di koran, ke rumah-rumah, hingga Aksi Demonstrasi pun dilakoni para parpol untuk dapat merebut hati pemilih di Indonesia. Bahkan di jalan-jalan pun begitu berserakan spanduk-spanduk dan baliho serta bendera-bendera yang terkadang sangat merusak estetika.
Namun, yang menarik justru keuntungan parpol berkuasa dan incumbent (Demokrat dan SBY serta JK dan Golkar), tentunya dengan mengerahkan potensi yang ada. Seperti mengklaim berbagai kebijakan sebagai keberhasilan mereka, layaknya iklan Partai Demokrat (PD). Iklan PD tentunya membuat orang yang “cerdas” gerah. Bayangkan PD yang merupakan partai berkuasa mengklaim keberhasilannya menurunkan harga BBM sebanyak tiga kali. Klaim semacam ini tetunya sangat tidak etis dan merupakan sebuah pembodohan kepada masyarakat. Harga Minyak dalam negeri itu pantas turun karena memang harga minyak dunia saat ini sedang terpuruk bahkan di bawah 40 US dollar, bukan serta merta keberhasilan PD dan yang berkuasa. Kecuali saat harga minyak dunia melonjak tapi harga BBM dalam negeri tetap murah, inilah prestasi, inilah keberhasilan. Kalau yang disampaikan iklan itu, sangat tidak layak dikatakan sebagai keberhasilan.
Tak lain halnya dengan PD, partai Golkar juga nampaknya menempuh jalur yang sama, beriklan dengan mengklaim keberhasilan pemerintahan koalisi sebagai keberhasilan kader dan partai Golkar. Perbedaannya Golkar mengklaim bahwa keberhasilan Indonesia swasembada beras saat ini tak lain adalah keberhasilan kader Golkar di Pemerintahan maupun di DPR. Kalau mau kita “permasalahkan sedikit”, siapa sih kader Golkar di Pemerintahan?yang bisa membuat Indonesia mengalami swasembada beras bahkan ekspor beras. Setau saya Menteri Pertaniannya sajah dari Partai Keadilan Sejahtera (PKS), apakah JK yang dimaksud kader dalam pemerintahan?Saya rasa yang lebih pantas mengklaimnya sebagai keberhasilan pihaknya mungkin Anton Apriantono (Menteri Pertanian), karena memang dia lah yang berprestasi, kinerjanya dikenal mumpuni dan berhasil membuat Indonesia swasembada pangan.
Meskipun sah-sah saja berkampanye dengan Iklan seperti itu, tapi seharusnya para elite parpol sudah lebih paham bahwa dalam berkampanye juga ada etikanya. Seperti cerita sebelumnya suatu parpol yang menampilkan Iklan “guru bangsa”, yang memajang gambar Soeharto juga mengalami kritik, yang dianggap tak etis. Tapi kesemuanya adalah sebuah permainan politik. Dan inilah politik. Siapa yang hebat memanfaatkan keadaan dia lah yang menang. Walaupun mungkin dalam pandangan pihak lain itu adalah cara-cara tidak etis bahkan licik. Dan ini lah Demokrasi di Indonesia. Ya, Demokrasi ala Indonesia.
Maka semua mereka berhasil dan rakyat yang gagal kaleee…jalan berlubang, kereta api tabrakan, hutan digunduli, kapal tenggelam..jalan semrawut, orang jalan seenaknya..dll..dll.
iyaa,,,
kadang mereka ternyata tidak membw agenda rakyat
melainkan partainya,,
jadi wajar kalo rakyat makin sengsara